PIONIR SIC: Guru dan Siswa

Berangkat dari makna kata guru, maka Guru yang berasal dari kata sansekerta ini menpunyai arti asli yang sangat tinggi, maka itu sampai ada figure batara guru, bahkan sampai kini kata guru di india masih bermakna khas. Demikian juga pemakaian kata ‘perguruan’ sekarang ini diterapkan dalam berbagai hal, đi antaranya yang berarti “sekolah”.

Guru juga menjadi faktor penting bisa terselenggaranya suatu sekolah, sepenting dan sejajar dengan aktor murid dan gedung. Guru di sekolah indonesia cairo sejak masih embrio, đidirikan, diresmikan, diakui, sampai sekarang ini, boleh díkatakan hampir semua dari mahasiswa indonesia di cairo(1956-1980) bahkan hingga sekarang setelah masuk abad 21, di tahun 2020, mahasiswa indonesia yang belajar di kairo di berbagai kampus masih ada yang mengajar di sekolah indonesia cairo.

Situasi dan kondisi lingkungan belajar serta kesamaan alam mahasiswa dan alam sekolah yang lebih kurang memiliki kesamaan, paling tidak dalam soal ‘menuntut ilmu’. Dan ini di rana mahasiswa menjadi pemicu dalam menularkan ilmu ke orang lain, tempaan dan cobaan berada di negeri orang sebagai insan penuntut ilmu menjadi cita rasa tersendiri, dan hanya mereka yang bisa merasakannya merupakan faktor pendukung untuk menyemangati mereka berbagi ilmu. Demikianlah, sampai tahun 1955 jumlah mahasiswa indonesia di Cairo sudah sekitar 30 an orang. Di antara mereka itu ada seorang asal medan tamatan sekolah guru atas SGA. Sebelum tiba đi cairo untuk melanjutkan studinya di Dar el Ulum Cairo University, beliau sudah menjadi guru negeri.

Murid-Murid Awal SIC:

Karena darah yang mengalir tadi berwarna ilmu dan pendidikan, maka tidak tega melihat beberapa putra/i para pejabat kita đi kbri cairo mendapat kesulitan di dalam studinya. Atas bantuan Bapak Djalaluddin Hasan, di rumah kediaman beliau điadakan semacam kelas bimbingan. kelas itu mula-mula sekali terdiri atas lima orang anak: Ida, Faisal, Susilowati, Butet, dan satu lagi laki-laki putra bapak Husein. Yang demikian ini mulai berjalan tahun 1955 dan berjalan lancar. Masa dan keadaan sedemikian tadi disebut dengan : “Masa embrio sekolah indonesia cairo”.
Pada saat peringatan ke 25 tahun SIC, Universitas al Azhar  sedang berada pada seribu pertamanya (tahun ini memperingati hari jadinya yang ke 1.000). Al Azhar sejak lama sudah sangat terkenal sebagai pusat ilmu di dunia ini. Dan mahasiswa indonesia sudah menuntut ilmu đi universitas tua itu sejak awal abad ke 20. Pemimpin, pejuang, dan ilmuwan tidak sedikit yang menyandang alumni al Azhar di tanah air. sebelum zaman kemerdekaan Indonesia, mahasiswa dari Indonesia, malaysia, Sarawak, philippine, Thailand, Kemboja, dan lainnya, disebut oleh orang Mesir sebagai: orang jawi. Jumlah mereka tidak sedikit đi al Azhar, sampai-sampai al Azhar mendirikan bangunan khusus (di samping masjid al Azhar) untuk tempat tinggal mereka rumah asrama gratis itu dinamakan “ruwaq jawi”. Sekarang telah dibangun komplek asrama (putra dan putri), khusus untuk mahasiswa al Azhar dari negara asing yang jumlahnya puluhan ribu itu. 

Guru Pionir

Mahasiswa asal medan yang disinggung di atas dengan didampingi kawannya yang lain setiap hari mengajar (atau lebih tepat: membimbing) kelima anak tađi, sesuai dengan bidang studi (mata pelajaran) mereka masing-masing. lima anak duđuk dalam satu ruang, menyi-sak buku pelajaran masing-masing, dan guru berkeliling membimbing satu persatu. naka itulah kami sebut “kelas bimbingan”. guru-guru yang membimbing itu ialah:

  1. H. T. Thabrani Harumy (asal medan),
  2. H. Hasan Langgulung (asal ujung pandang),
  3. H. Fedhloellah Moenawwar (asal jawa tengah).

Ketiga beliau itulah guru yang pertama mengajar pada kelas bimbingan tadi. kami menyebut mereka sebagai guru pionir daripada sekolah Indonesia Cairo. Dan kelima anak đi atas kami sebut pula murid pionir dari SIC.

Tidak dilupakan bahwa pengelolaan kelas bimbingan tadi dipegang oleh H. Dja’far Nur (asal surabaya) je mengurus keuangan & pembiayaan kelas bimbingan tadi. kemudian h.dja’far nur juga menjadi guru. 

Setelah murid semakin banyak, dan kelas bimbingan tadi berubah menjadi suatu sekolah, maka jumlah guru pun bertambah. Mula-mula h. Mahidin, kemudian ibu Kartini Widaya Latief. Abdul Majid Siraj, Anis Shahab, Rachmat Syam’un, Sulasmi, dan lainnya. Seperti halnya siswa silih berganti’. 

Demikianlah hingga sekarang guru SIC silih ganti, sejalan dengan silih bergantinya siswa-siswinya itu sendiri. Dan sudah memiliki dua jenis guru secara status, guru PNS yang dikirim langsung dari indonesia dan Honorer yang dipilih di kairo langsung dan rata-rata mereka adalah mahasiswa yang perna atau sedang belajar di berbagai kampus di kairo, Al Azhar, Ain Syam dan lainnya. Kepala sekolah sendiri, sejak mendapat pengakuan dari KEMENDIKBUD, ditunjuk dan di SK-an dan dikirim langsung dari indonesia hingga sekarang

Bahkan hampir satu dekade belakangan kelas atau program Cambridge dibuka maka guru atau pengampu mapel sains program Cambridge adalah status honorer yang direkrut dari orang-orang setempat(pengajar mesir).

Kutipan Buku : “Seperempat Abad Sekolah Indonesia Cairo: (1956/1957-1981/1982)